Home Ma'NewsBerita Terkini Workshop Komik Strip Hadirkan Ruang Berekspresi bagi Murid Ma’arif NU DIY, Angkat Tema Anti Bullying

Workshop Komik Strip Hadirkan Ruang Berekspresi bagi Murid Ma’arif NU DIY, Angkat Tema Anti Bullying

by timpublikasilpmnudiy.AG.
0 comment

Ma’News – Yogyakarta – 30/10/2026

Seni bisa menjadi cara yang menyenangkan untuk belajar sekaligus menyuarakan keresahan. Semangat itulah yang mewarnai Workshop Pelatihan Pembuatan Komik Strip di SMK Ma’arif 1 Kota Yogyakarta pada Jumat, 30 Oktober 2026. Acara yang dibuka Master of Ceremony pukul 09.15 WIB ini dihadiri Dra. Ening Yuni Soleh Astuti, M.A. selaku Bendahara LP Ma’arif NU PWNU DIY yang mewakili Ketua.

Hadir dari unsur Lesbumi PWNU DIY, Awaluddin G. Mualif, S.Sos. selaku Ketua Lesbumi PWNU DIY, dan Sony Prasetyotomo selaku Wakil Sekretaris Lesbumi PWNU DIY. Kemudian hadir Dewi Astuti, M.Pd., Fasilitator BPPPMNU I dan Aviaty Nurhutami, S.Pd., selaku Fasilitator BPPPMNU VII, para kepala sekolah SLTA Ma’arif NU PWNU DIY, serta murid-murid Ma’arif NU DIY sebagai peserta pelatihan.

Rangkaian acara diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, Syubhanul Wathon, dan Mars Ma’arif, lalu dilanjutkan sambutan dari Dra. Ening Yuni Soleh Astuti, M.A. Beliau menyampaikan bahwa komik strip merupakan media belajar yang menyenangkan, tidak membosankan, dan bisa berganti-ganti media. Komik juga dinilai membantu menyederhanakan pembelajaran di lingkungan Ma’arif, khususnya materi Akhlak, Sejarah, dan Aswaja, sekaligus melatih peserta untuk cakap secara visual dan kreatif.

Sebagai tindak lanjut, setiap peserta diminta menghasilkan minimal dua hingga tiga komik yang akan didokumentasikan sebagai bukti bahwa lembaga pendidikan Ma’arif NU DIY pernah menggelar pelatihan komik strip. Karya terbaik akan dikurasi untuk dibukukan oleh Lesbumi, sebab buku adalah prasasti yang tetap ada saat kita sudah tiada. Hasil karya peserta juga akan diunggah di media sosial PWNU DIY sebagai syiar sinergi antara lembaga pendidikan Ma’arif NU dan PWNU. Beliau pun menyampaikan terima kasih kepada Lesbumi PWNU DIY atas kerja samanya.

Memasuki sesi materi, Sony Prasetyotomo mengajak peserta mengenal komik strip dari dasar. “Komik strip itu cerita bergambar pendek yang tersusun dalam beberapa panel dan bisa selesai dibaca sekali duduk. Sederhana, tapi pesannya bisa sangat kuat,” jelasnya. Ia lalu memaparkan sejarahnya. Komik strip


pertama kali muncul pada abad ke-19 di Amerika Serikat, di surat kabar New York World lewat karya berjudul “Yellow Kid” karya Richard Outcault. Di Indonesia, komik strip pertama muncul pada 1931 di koran Sin Po dengan judul Put On karya Kho Wan Gie (Sopoiku), bertema humor dan kritik sosial.

banner

Sony juga menjelaskan unsur-unsur yang biasanya ada dalam komik strip, yakni cerita, gambar atau karakter, panel, balon kata atau narasi, dan onomatope. Komik tidak melulu untuk hiburan. Ada yang dibuat untuk humor, kritik sosial, informasi, propaganda, sampai promosi. Jadi kalian bebas memilih untuk apa komik kalian dibuat,” tuturnya.

Setelah menyimak materi, para peserta langsung mempraktikkannya dengan menggambar komik strip masing-masing bertema Anti Bullying. Tema ini dipilih karena kasus perundungan masih kerap terjadi di sekolah, sehingga komik strip dapat menjadi sarana kritik sosial terhadap perilaku tersebut.

Di sela kegiatan, Awaluddin G. Mualif, S.Sos. menjelaskan tujuan workshop ini. “Kami (Lesbumi PWNU DIY) ingin berbagi pengetahuan dan pengalaman lewat seni, khususnya komik strip, karena medianya sederhana dan mudah diakses. Workshop ini sebelumnya sudah pernah kami adakan di MTs Krapyak.

Harapannya, murid bisa mengekspresikan kreativitas mereka, termasuk saat menghadapi tantangan seperti kenakalan remaja,” ungkapnya. Ke depan, karya terbaik dari peserta di empat kota akan dikumpulkan dan diterbitkan dalam buku bertema anti bullying. “Kami ingin seni menjadi saluran bagi mereka untuk menyalurkan emosi dengan cara yang positif dan indah,” tambahnya.

Kesan menyenangkan juga disampaikan para peserta. Alfian Fadli Firmansyah dari SMK Ma’arif 1 Piyungan mengaku sempat kaget karena undangan datang mendadak. “Awalnya kaget karena diundang mendadak, tapi senang sekali bisa hadir. Saya dapat banyak pengetahuan soal cara membuat dan memahami komik strip,” katanya. Ia berharap kegiatan ini berlanjut ke seluruh sekolah Ma’arif NU DIY. “Semoga pelatihan seperti ini ada terus, supaya lebih banyak murid yang merasakan manfaatnya.”

Rafli Farello Novela Saputra dari SMK Ma’arif 2 Piyungan mengaku menikmati proses belajarnya. “Seru sekali belajarnya, apalagi bisa berinteraksi dan kenal dengan peserta dari sekolah lain,” ujarnya. Sementara itu, Anik Setyaningsih dan Latifah Nur Isnaini, murid SMK Ma’arif 1 Kota Yogyakarta, mengaku sempat takut gagal saat diminta menggambar. “Awalnya kami takut hasil gambarnya jelek dan gagal. Tapi setelah ikut workshop ini, kami senang sekali karena bisa menggambar bareng teman-teman Ma’arif dari sekolah lain,” tutur mereka. “Kami berharap pelatihan menggambar seperti ini terus ada ke depannya.”

Melalui workshop ini, besar harapan agar komik strip tumbuh menjadi media belajar dan ruang berekspresi yang positif bagi murid-murid Ma’arif NU DIY. Semoga karya-karya yang dihasilkan kelak terbit dalam buku bertema stop bullying dan memberi pesan kuat bagi lingkungan sekolah yang lebih aman, saling menghargai, dan penuh kreativitas.

You may also like

Leave a Comment

LP Ma’arif NU PWNU DIY adalah lembaga otonom Nahdlatul Ulama (NU) di Daerah Istimewa Yogyakarta yang berfokus pada pengelolaan pendidikan. Sebagai bagian integral dari NU, LP Ma’arif NU PWNU DIY memiliki misi untuk mengembangkan pendidikan berkualitas yang berlandaskan nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jama’ah.

LOCATION

Edtior's Picks

Latest Articles