Semarak Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 turut menggema di wilayah Kabupaten Kulon Progo. Pada 22 September 2026 lalu, satuan pendidikan di bawah naungan LP Ma’arif NU PWNU DIY secara serentak menggelar berbagai kegiatan religius dan nasionalis. Tercatat sembilan institusi pendidikan berpartisipasi aktif dalam momen ini, yakni SMA Ma’arif Wates, SMK Ma’arif 1 Wates, SMK Ma’arif 3 Wates, SMK Ma’arif 1 Temon, SMK Ma’arif 2 Temon, SMK Ma’arif 1 Nanggulan, SMK Ma’arif 1 Kalibawang, SMK serta MA Ma’arif Nurul Haromain.
Memperkuat esensi peringatan tahun ini, Ketua Umum PBNU, KH. Abdul Hakim Mahfudz, dalam amanatnya berpesan bahwa, semangat Resolusi Jihad kini harus diwujudkan dalam bentuk pergerakan intelektual dan sosial. Santri masa kini dituntut untuk berjuang melawan kebodohan, kemiskinan, perusakan lingkungan, dan praktik korupsi dengan akar tradisi ke-NU-an yang dijadikan pijakan utama.
Menggemakan pesan tersebut, SMK Ma’arif 1 Wates menyelenggarakan peringatan secara terstruktur di dua lokasi berbeda. Di halaman sekolah, upacara bendera diikuti dengan khidmat oleh seluruh siswa X dan kelas XII yang tidak sedang Praktik Kerja uruh warga sekolah. Lapangan (PKL), di mana mereka tampil bersahaja dalam balutan busana bernuansa santri.
Sementara itu, para siswa kelas XI berbaur bersama ribuan santri se-Kabupaten Kulon Progo untuk mengikuti upacara tingkat kabupaten di Alun-Alun Wates. Langkah serupa juga diambil oleh SMK Ma’arif 3 Wates yang turut mengikuti upacara di Alun-Alun Wates bersama Pemkab, lalu melanjutkannya dengan istighosah dan mujahadah di sekolah.
Kolaborasi dengan instansi setempat juga terlihat di SMK Ma’arif 1 Nanggulan. Selain menggelar apel di sekolah dan di Kantor Kapanewon Nanggulan, yang disusul doa tahlil bersama, para siswa juga mengikuti kegiatan “Kulon Progo Mengaji” secara daring (Zoom) bersama Balai Dikmen pada pukul 09.00 WIB.
Di tempat lain, peringatan pagi yang bermakna diwujudkan oleh SMK Ma’arif 1 Kalibawang dan SMA Ma’arif Wates melalui pelaksanaan apel pagi. Khusus untuk SMA Ma’arif Wates, apel tersebut langsung dirangkai dengan kegiatan mujahadah bersama seluruh warga sekolah.
Menyoroti peran historis santri dan ulama dalam mempertahankan kemerdekaan yang digelorakan melalui fatwa Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari. Belau mengingatkan kembali pesan penting tentang persatuan, bahwa tidak ada kebaikan yang lahir dari perpecahan. Oleh karena itu, Nahdlatul Ulama dengan akar budayanya yang kuat harus mampu hadir sebagai jembatan penyambung budaya (cultural broker) yang memadukan nilai-nilai tradisional dan tata kehidupan modern secara harmonis, demi mewujudkan cita-cita bangsa yang adil dan makmur.
Nilai-nilai itulah yang mewarnai perayaan di SMK Ma’arif 2 Temon. Setelah melaksanakan apel pagi, sholat Dhuha berjamaah, dan mujahadah, warga sekolah melakukan ziarah ke makam punden dan Masjid Faqih Jangkaran. Rangkaian ziarah juga menjadi agenda utama bagi SMK dan MA Nurul Haromain. Usai melaksanakan upacara bendera, mereka berziarah ke makam KH. M. Sirodjan Muniro Abdurrahman beserta Ibu Nyai, lalu menutup kebersamaan dengan acara ramah tamah seluruh keluarga besar di lingkungan Nurul Haromain.
Melalui seluruh rangkaian kegiatan yang berjalan lancar, tertib, dan sarat akan nilai nasionalisme ini, terselip harapan agar semarak Hari Santri tidak sekadar menjadi perayaan tahunan belaka. Ke depannya, ketangguhan dan semangat Resolusi Jihad diharapkan dapat terus terpatri kuat dalam dada setiap siswa-siswi LP Ma’arif NU Kulon Progo. Dengan berbekal iman, kedisiplinan, dan kecintaan pada tanah air, para generasi muda ini diyakini mampu terus menuntut ilmu dan melahirkan karya-karya nyata yang bermanfaat bagi kemajuan bangsa dan negara.