Ma’News – Yogyakarta – 17/10/2026 Daniel Todd Sibley, salah satu pembimbing MGMP Bahasa Inggris LP Ma’arif NU PWNU DIY (META Yogyakarta) sekaligus pengajar asal Amerika Serikat, kembali mengunjungi Indonesia untuk ke-10 kalinya. Dalam kunjungan ini, ia mengisi kegiatan belajar bahasa Inggris di tiga sekolah di bawah LP Ma’arif NU PWNU DIY. Kegiatan berlangsung selama dua hari, 13 – 14 Oktober 2026.
Hari Pertama: SMK Ma’arif 1 Temon
Kunjungan dimulai pada Selasa, 13 Oktober 2026. Daniel mendarat di Bandara Adi Sucipto pukul 09.30, lalu menuju SMK Ma’arif 1 Temon, Kulon Progo. Ia tiba pukul 12.45 WIB dan didampingi pengurus Ma’arif English Teachers Association (META) Yogyakarta, yaitu Ketua META Yogyakarta Novida Sawitri, M.Pd. dari MA YAPPI Gubukrubuh, Erma Lailyfiyah, S.Pd. dari SMK Ma’arif 2 Temon, dan Bayu Prananto, S.Pd dari SMK Ma’arif 1 Wates.
Kepala SMK Ma’arif 1 Temon, Anwar Syaifudin, S.Ag., bersama dewan guru, staf, dan murid menyambut rombongan. Para murid menampilkan yel-yel dan nyanyian yang telah mereka siapkan. Pukul 13.00 WIB, Daniel mengajar murid kelas XI selama sekitar 90 menit dengan metode yang komunikatif dan interaktif.
Kepala SMK Ma’arif 1 Temon, Bapak Anwar Syaifudin, S.Ag., bersama dewan guru, staf, dan murid menyambut rombongan. Para murid menampilkan yel-yel dan nyanyian yang telah mereka siapkan. Pukul 13.00 WIB, Daniel mengajar murid kelas XI selama sekitar 90 menit dengan metode yang komunikatif dan tentu saja interaktif.
Hari Kedua: Kunjungan ke Gunungkidul
Sekolah pertama adalah SMK Ma’arif Playen yang dipimpin Evi Nuryanti, S.S. Daniel tiba pukul 09.30 WIB dan disambut para murid serta dewan guru di ruang kelas. Dalam sesi ini, ia menyampaikan prinsip mengajarnya: pendidik tidak cukup mengandalkan hafalan buku teks, tetapi mengajar dengan mata untuk mengamati, telinga untuk mendengarkan, dan hati untuk merajut koneksi emosional.
Prinsip itu ia terapkan lewat metode belajar yang menyenangkan, antara lain mengajak murid menyanyikan lagu anak “Humpty Dumpty”. Lewat lagu tersebut, murid menjadi lebih berani berbahasa Inggris.
Rombongan kemudian menuju SMK Ma’arif Wonosari yang dipimpin Joko Nugroho Sucahyohadi, S.Pd. Acara berlangsung lebih tenang dan fokus, dan para murid menyimak arahan Daniel dengan saksama. Daniel mengajarkan lagu “The More We Get Together”, yang bermakna bahwa semakin sering manusia berkumpul dan saling mengenal, semakin besar pula kedamaian dan kebahagiaan yang tercipta. Semua acara ditutup dengan foto bersama, pembagian cokelat dan permen, serta jabat tangan antara Daniel dan para murid maupun guru.
Penguatan Kepercayaan Diri Berbahasa Inggris
Kunjungan ke-10 Daniel Todd Sibley ini bukan sekadar silaturahmi rutin. Kunjungan ini menunjukkan komitmennya mendukung peningkatan kemampuan dan kepercayaan diri berbahasa Inggris di sekolah-sekolah Ma’arif NU DIY. Kehadiran penutur asli (native speaker) yang ramah memberi pengalaman belajar yang bermanfaat bagi para murid. Kegiatan sederhana seperti bernyanyi bersama, saling tersenyum, dan berjabat tangan menunjukkan bahwa bahasa dapat menjadi jembatan antarbudaya.
English Teaching Workshop, “Inspiring Minds, Touching Hearts: Transforming English Classrooms Through Compassionate Teaching”
Tidak berhenti melalui kunjungan sekolah-sekolah, kegiatan META Yogyakarta dilanjutkan dengan English Teaching Workshop bertema “Inspiring Minds, Touching Hearts: Transforming English Classrooms Through Compassionate Teaching”. Kegiatan yang diselenggarakan META Yogyakarta ini berlangsung pada Kamis, 15 Oktober 2026, di Loman Park Hotel DIY.
Workshop ini dihadiri Dr. Dott. Birul Walidaini, M.Mus., pengurus Divisi MGMP yang mewakili Ketua LP Ma’arif NU PWNU DIY, dan Joshua Subandriyo, A.Md.Kes., S.H., BBA., M.Pd., selaku Pembina META Yogyakarta. Narasumber kegiatan adalah Daniel Todd Sibley, sedangkan para peserta merupakan anggota META Yogyakarta. Rangkaian acara dibuka oleh MC Erma Lailyfiyah, S.Pd., dan Siti Himatun Rofi’ah, S.S.
Memasuki acara inti, Ketua META, Novida Sawitri, M.Pd., menyampaikan sambutan. Ia berterima kasih kepada seluruh peserta yang menyempatkan hadir, juga mengingatkan peserta untuk bangga dan bersyukur atas kehadiran Pak Sibley sebagai pembicara di tengah kesibukannya, serta berterima kasih atas kontribusi beliau di META. Di akhir sambutan, ia mengajak peserta merenungkan apa yang akan mereka lakukan ke depan dan berusaha menjadi individu dan guru yang lebih baik.
Sambutan berikutnya disampaikan Dr. Dott. Birul Walidaini, M.Mus. Menurutnya, META dapat menjadi contoh keaktifan yang menginspirasi MGMP lain. Ia berharap acara berjalan lancar dan bermanfaat bagi semua peserta, serta mendoakan kesehatan dan peningkatan diri bagi para hadirin. Ia juga menekankan pentingnya pengembangan dan dukungan bagi kemajuan pendidikan sebagai komitmen bersama.
Semangat untuk berkembang itu dipertegas oleh Joshua Subandriyo, A.Md.Kes., S.H., BBA., M.Pd., lewat kutipan quotes: “If growth is expected, change become essential.” Quotes Ini sangat relevan karena esensi profesi guru adalah menumbuhkan potensi siswa di tengah dunia yang terus bergerak. Perkembangan teknologi, perubahan karakter generasi, dan pembaruan kurikulum membuat guru tidak bisa lagi bertahan dengan cara lama.
Agar murid tumbuh maksimal dan siap menghadapi masa depan, guru harus mau mengubah metode mengajar, beradaptasi, dan terus belajar sebagai pembelajar sepanjang hayat. Tanpa kesediaan berubah dan keluar dari zona nyaman, pertumbuhan siswa maupun kompetensi guru sulit terwujud.

Setelah motivasi tersebut, sesi dilanjutkan dengan pemaparan Daniel Todd Sibley. Beliau menjelaskan bahwa di kelas bahasa Inggris, siswa sering terhambat rasa takut dihakimi saat salah tata bahasa atau pelafalan, sehingga muncul mental block.
Dalam pengajaran yang welas asih (compassionate teaching), guru perlu lebih dulu meruntuhkan rasa takut itu dan menciptakan rasa aman secara emosional (“menyentuh hati”) sebelum siswa dapat menerima materi secara kognitif (“menginspirasi pikiran”). Saat rasa takut salah hilang, otak siswa lebih rileks, terbuka, dan optimal menyerap bahasa baru.
Karena itu, guru perlu mengubah kelas bahasa Inggris dari arena ujian dan hafalan menjadi lingkungan belajar yang suportif dan memberdayakan. Tujuannya, bahasa Inggris tidak hanya menjadi mata pelajaran, tetapi juga alat untuk membangun koneksi antarmanusia, mengekspresikan empati, dan memperluas pemahaman global siswa, sehingga mereka mencintai proses belajarnya.
Lalu, bagaimana cara mewujudkannya? Guru perlu memadukan dukungan emosional dengan praktik pembelajaran yang berpusat pada siswa secara konsisten. Cara pertama adalah personalisasi pembelajaran, yaitu memakai materi bahasa Inggris untuk mengeksplorasi cerita, minat, dan perasaan siswa sendiri.
Selain itu, cara yang paling efektif menurutnya adalah shadowing. Teknik belajar bahasa asing ini dilakukan dengan mendengarkan audio penutur asli (native speaker) dan menirukan ucapannya secara lantang dengan jeda sesingkat mungkin, hampir bersamaan, seperti bayangan.

Selain pemaparan materi, kegiatan juga diisi dengan aktivitas membuat gelang. Para peserta diberi beads dan tali gelang, lalu membuat gelang sesuai kreativitas masing-masing. Pak Sibley menekankan bahwa kegiatan ini dapat dilakukan di kelas sebagai selingan sambil belajar bahasa Inggris.

Melalui workshop ini, para guru anggota META Yogyakarta diharapkan dapat menerapkan pembelajaran yang welas asih dan berpusat pada siswa di kelas masing-masing. Semangat untuk terus belajar dan berubah juga diharapkan terus tumbuh serta menginspirasi MGMP lain di lingkungan LP Ma’arif NU PWNU DIY.
