Ma’News – Gunungkidul – 03/11/2026
Setelah sebelumnya digelar di Kota Yogyakarta, Workshop Pelatihan Pembuatan Komik Strip bertema Anti-Bullying kini berlanjut ke sekolah dan madrasah Ma’arif NU PWNU DIY di Kabupaten Gunungkidul. Kegiatan yang berkolaborasi dengan Lesbumi PWNU DIY ini digelar di SMK Pembangunan Karangmojo pada Senin, 2 November 2026 pukul 09.00 WIB hingga selesai.
Hadir dalam acara ini Taufik Ahmad Soleh, S.Ag., M.A. selaku Wakil Ketua III LP Ma’arif NU PWNU DIY yang mewakili Ketua LP Ma’arif NU PWNU DIY, Awaluddin G. Mualif, S.Sos. selaku Ketua Lesbumi PWNU DIY, dan Sony Prasetyotomo selaku Wakil Sekretaris Lesbumi PWNU DIY. Turut hadir Fasilitator BPPPMNU II dan III, para kepala sekolah dan madrasah Ma’arif NU PWNU DIY, serta murid-murid Ma’arif NU PWNU DIY sebagai peserta pelatihan.
Acara dibuka oleh MC, dilanjutkan menyanyikan lagu Indonesia Raya, Syubhanul Wathon, dan Mars Ma’arif, lalu beberapa sambutan. Sebagai tuan rumah, Kepala SMK Pembangunan Karangmojo, Muh. Kadarisman, S.Pd., menyampaikan ucapan selamat datang kepada seluruh peserta dan tamu yang hadir. Beliau berharap kegiatan ini memberi pengalaman, wawasan, dan manfaat positif bagi murid, khususnya dalam mengembangkan kreativitas lewat media komik strip. Beliau juga memohon maaf apabila sarana dan prasarana yang disediakan masih kurang memadai.
Sambutan berikutnya disampaikan Taufik Ahmad Soleh, S.Ag., M.A. mewakili Ketua LP Ma’arif NU PWNU DIY. Beliau berharap pertemuan ini membawa energi positif bagi lahirnya prestasi murid. Murid diminta terus menggali kreativitas sebagai bekal menghadapi perkembangan teknologi, serta memiliki kualifikasi, kemampuan, dan semangat untuk meraih prestasi tinggi.
Beliau juga menekankan bahwa nilai-nilai kema’arifan dan keaswajaan yang telah tertanam harus diwujudkan dalam perilaku sehari-hari agar murid memiliki kepribadian yang kuat. Atas terselenggaranya kegiatan ini, beliau menyampaikan apresiasi dan dukungan, termasuk kepada SMK Pembangunan Karangmojo yang bersedia menjadi tuan rumah, seraya berdoa semoga kebaikan tersebut dibalas lebih baik oleh Allah SWT.
Usai sambutan, acara berlanjut ke pemaparan materi oleh Sony Prasetyotomo. Peserta diajak mengenal komik strip sebagai cerita bergambar pendek yang tersusun dalam beberapa panel dan selesai dibaca sekali waktu, lengkap dengan sejarah kemunculannya di dunia dan di Indonesia, unsur-unsurnya seperti cerita, karakter, panel, balon kata, dan onomatope, serta ragam penggunaannya, mulai dari hiburan, kritik sosial, informasi, hingga promosi.
Setelah memahami teorinya, para peserta langsung masuk ke sesi praktik membuat komik strip. Dengan tema Anti-Bullying, murid-murid dari berbagai sekolah dan madrasah menuangkan ide mereka ke dalam panel-panel bergambar. Tema ini dipilih karena kasus perundungan masih kerap terjadi di sekolah, sehingga komik strip dapat menjadi sarana menyuarakan kritik terhadap perilaku tersebut sekaligus mengajak teman-teman untuk saling menghargai.
Antusiasme peserta tampak dalam sesi wawancara. Nurul Khasanah dari SMK Ma’arif Playen mengaku senang mengikuti pelatihan ini. “Saya senang mengikuti pelatihan ini karena saya memang suka menggambar,” ujarnya. Ia mengaku terkadang mengalami art block, yakni kebuntuan mencari inspirasi yang biasa dialami seniman, yang pada dirinya muncul karena kehabisan inspirasi atau jenuh dengan rutinitas yang monoton. Karena itu, ia berharap pelatihan ini dapat memberinya inspirasi baru.
Rasa antusias serupa dialami Jalu Seta Afrizal, murid MA Ma’arif Nglipar, yang hadir ditemani Kepala Madrasah. “Saya sangat excited ikut pelatihan ini. Belajar membuat komik langsung dari pegiat seni itu pengalaman yang baru buat saya. Semoga acara seperti ini terus ada untuk melatih calon komikus-komikus daerah,” ungkapnya.
Kegiatan ini sekaligus menunjukkan bahwa seni bisa menjadi jembatan yang hangat antara dunia pendidikan dan kebudayaan. Lewat kolaborasi LP Ma’arif NU PWNU DIY dan Lesbumi PWNU DIY, murid tidak hanya belajar teknik menggambar, tetapi juga belajar menyampaikan gagasan dan kepedulian dengan cara yang sederhana dan mudah dipahami teman sebayanya.
Di tengah rutinitas belajar yang kadang menjenuhkan, ruang seperti ini memberi kesempatan bagi murid untuk mencoba hal baru, bertemu teman dari sekolah lain, dan menemukan bakat yang selama ini mungkin belum terlihat.
Melalui workshop ini, besar harapan agar komik strip menjadi ruang berekspresi yang positif bagi murid-murid Ma’arif NU di Gunungkidul. Semoga kegiatan ini terus berlanjut dan melahirkan komikus-komikus muda yang kreatif, berkarakter, dan peduli pada lingkungan sekolah yang bebas dari perundungan.
