Ma’News – Yogyakarta – 21/09/2026 Hampir satu abad Lembaga Pendidikan Ma’arif NU mengabdi melalui jalur pendidikan. Usia yang panjang ini menjadi momentum berharga bagi seluruh satuan pendidikan di lingkungan LP Ma’arif NU PWNU DIY untuk bersyukur sekaligus merefleksikan diri, sudah sejauh mana Ma’arif NU memberi manfaat, dan bagaimana Ma’arif NU harus melangkah menghadapi zaman yang berubah sangat cepat.
Peringatan Hari Lahir (Harlah) LP Ma’arif NU yang ke-97 jatuh pada 19 September 2026. LP Ma’arif NU lahir pada 19 September 1929, berangkat dari kesadaran bahwa umat tidak mungkin maju apabila pendidikannya tertinggal. Harlah tahun ini mengusung tema “Menginspirasi Negeri, Membangun Peradaban”, sebuah tema yang diharapkan tidak berhenti sebagai tulisan pada spanduk dan media sosial, melainkan benar-benar terlihat dalam cara seluruh warga Ma’arif NU bekerja.
Sebagai wujud peringatan, kegiatan upacara untuk memperingati Harlah digelar serentak di sekolah dan madrasah di lingkungan LP Ma’arif NU PWNU DIY. Sambutan Ketua LP Ma’arif NU PWNU DIY dibacakan serentak oleh para Kepala Sekolah dan Kepala Madrasah, sehingga pesan Harlah dapat sampai langsung kepada guru, tenaga kependidikan, dan seluruh murid di masing-masing satuan pendidikan.
Dalam amanatnya, Dr. Tadkiroatun Musfiroh, M.Hum. selaku Ketua LP Ma’arif NU PWNU DIY mengajak seluruh warga Ma’arif NU untuk menjawab pertanyaan yang jauh lebih penting dari sekadar kepemilikan sekolah: apakah sekolah dan madrasah Ma’arif NU mampu tetap relevan ketika dunia bergerak jauh lebih cepat dari sebelumnya. Beliau menegaskan bahwa anak Ma’arif NU harus memiliki dua hal sekaligus, yakni akar yang kuat agar tahu dari mana ia berasal dan untuk apa ilmunya digunakan, serta sayap yang lebar agar mampu menghadapi perubahan dan berdiri sejajar dengan siapa pun.
Menghadapi dunia VUCA, yaitu dunia yang penuh perubahan cepat, ketidakpastian, kompleksitas, dan situasi yang tidak selalu mudah dibaca. Belakangan muncul pula istilah BANI untuk menggambarkan dunia yang rapuh, mudah menimbulkan kecemasan, tidak selalu berjalan secara linear, dan kadang sulit dipahami, Ma’arif NU dituntut membangun lembaga yang tangguh. Di DIY, hal ini diwujudkan melalui penguatan tata kelola, kaderisasi lewat Talent Pool Training, penataan BPPPMNU, dan rintisan Ma’arif Dana Bersama. Di sisi lain, di tengah perubahan apa pun, nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, dan adab tidak boleh berubah. Ahlussunnah wal Jama’ah An-Nahdliyah harus hadir bukan sekadar sebagai materi pelajaran, tetapi dalam kebiasaan hidup sehari-hari.
Beliau juga menekankan bahwa guru harus mampu membaca kegelisahan murid yang tidak terkatakan, karena sekolah harus menjadi tempat yang menghadirkan ketenangan dan harapan di tengah tekanan era digital. Ma’arif NU pun didorong memperkuat literasi, tidak sekadar membaca dan menulis, melainkan kemampuan membedakan informasi dari manipulasi dan berani mengatakan “saya belum tahu” ketika memang belum tahu. Kader Ma’arif NU perlu dibimbing untuk hadir di ruang digital bukan sebagai pengikut arus, melainkan sebagai pembawa nilai Aswaja yang cerdas, santun, dan argumentatif.
Mengutip QS Ar-Ra’d ayat 11, Dr. Tadkiroatun Musfiroh, M.Hum., mengingatkan bahwa perubahan tidak boleh hanya ditunggu, melainkan harus diupayakan. Jangan menunggu fasilitas sempurna untuk berinovasi, dan jangan menunggu zaman menjadi mudah, sebab tugas pendidikan bukan membuat dunia menjadi sederhana, melainkan membuat anak-anak lebih siap menghadapi dunia beserta perubahannya.
Menutup amanatnya, Dr. Tadkiroatun Musfiroh, M.Hum. menyampaikan pesan yang sarat makna bagi seluruh keluarga besar LP Ma’arif NU PWNU DIY.

Melalui peringatan Harlah ke-97 ini, besar harapan agar semangat “Menginspirasi Negeri, Membangun Peradaban” benar-benar mewujud dalam keseharian setiap satuan pendidikan Ma’arif NU di Daerah Istimewa Yogyakarta. Peradaban dibangun ketika seorang anak dididik menjadi manusia yang berilmu, jujur, mandiri, peduli, dan bertanggung jawab. Dari satu anak tumbuh satu keluarga, dari keluarga tumbuh masyarakat, dan dari manusia-manusia yang baik itulah sebuah peradaban dibangun. Semoga di usia yang hampir satu abad ini, LP Ma’arif NU terus tumbuh menjadi rumah pendidikan yang kokoh dan bermanfaat bagi umat, bangsa, serta kemanusiaan.
