Home Ma'NewsBerita Terkini Menguatkan Ideologi dan Organisasi, Hari Kedua TPT Level I LP Ma’arif NU PWNU DIY Digelar di Gedung DPRD Daerah Istimewa Yogyakarta

Menguatkan Ideologi dan Organisasi, Hari Kedua TPT Level I LP Ma’arif NU PWNU DIY Digelar di Gedung DPRD Daerah Istimewa Yogyakarta

by timpublikasilpmnudiy.AG.
0 comment

Melanjutkan komitmen kaderisasi yang terstruktur dan berkelanjutan, hari kedua Talent Pool Training (TPT) Level I Angkatan 01 LP Ma’arif NU PWNU DIY digelar pada Sabtu, 14 Februari 2026, bertempat di Ruang Banggar Lt. 2 Gedung DPRD DIY. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian TPT yang dirancang sebagai fondasi sistem kaderisasi berbasis talenta, sebagaimana tertuang dalam Desain Program Talent Pool Training Hari kedua difokuskan pada penguatan aspek ideologi dan organisasi sebagai core pengembangan SDM LP Ma’arif NU DIY.

Sejak pagi, suasana pelatihan berlangsung tertib dan penuh antusiasme, diawali dengan registrasi peserta serta pengecekan Talenta NUIST sebagai instrumen pemetaan kader. Para peserta yang berasal dari berbagai satuan pendidikan LP Ma’arif NU DIY mengikuti sesi dengan disiplin, menunjukkan kesungguhan dalam menapaki jalur kaderisasi yang telah ditetapkan secara berjenjang dan sistematis.


Memasuki sesi utama, penguatan nilai kebangsaan dan kebersamaan menjadi titik tekan keynote speech, yang disampaikan oleh Dr. K.H. Hilmy Muhammad, M.A. Dalam paparannya, beliau menyoroti pergeseran masyarakat Indonesia dari pola agraris menuju masyarakat modern. Jika masyarakat agraris identik dengan kerja sama dan gotong royong, maka masyarakat modern cenderung bergerak ke arah individualisme.

Lebih jauh, beliau mengingatkan pentingnya menjaga ruh kolektivitas dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kekhawatiran terhadap melemahnya semangat gotong royong, termasuk dalam kehidupan organisasi, menjadi refleksi bersama. Menurut beliau, anak yang hebat bukanlah yang unggul secara individual semata, melainkan yang mampu bekerja sama dengan temannya. Pahlawan sejati, tegas beliau, adalah mereka yang bergerak bersama.

Sebagai penegasan nilai di era digital, beliau juga mengingatkan pentingnya kebijaksanaan dalam menggunakan teknologi. Kemajuan teknologi tidak boleh memutus interaksi tatap muka dan relasi kemanusiaan. Organisasi, termasuk LP Ma’arif NU, harus memastikan bahwa kemajuan modern tetap sejalan dengan nilai kebersamaan dan etika sosial.


Setelah penguatan semangat kebangsaan, sesi berikutnya memperdalam aspek ideologis Ahlussunnah wal Jamaah dalam praktik organisasi. Materi disampaikan oleh Dr. K.H. Ahmad Zuhdi Muhdlor, S.H., M.Hum., yang menekankan pentingnya memahami Aswaja melalui sanad keilmuan yang jelas dan bertanggung jawab.

Dalam pemaparannya, beliau menjelaskan bahwa perbedaan pemahaman dalam Islam merupakan keniscayaan historis. Salah satu sebabnya adalah intensitas pertemuan sahabat dengan Nabi yang berbeda-beda. Tidak semua sahabat menerima informasi dalam konteks dan waktu yang sama, sehingga lahir ragam pemahaman.

banner

Selain itu, faktor kebahasaan juga menjadi penyebab perbedaan interpretasi. Bahasa Arab memungkinkan satu kata memiliki banyak arti, sehingga penafsiran bisa beragam. Ditambah lagi, ada ajaran Nabi yang ditulis dan terdokumentasi, serta ada pula yang disampaikan secara lisan dan tidak terdokumentasikan secara formal.

Dengan landasan historis dan teologis tersebut, beliau menegaskan bahwa perbedaan tidak boleh menjadi sumber konflik. Justru di situlah ruang ijtihad dan dinamika pemikiran berkembang. Prinsip tasamuh (toleransi) menjadi kunci dalam menyikapi ragam pandangan.

Lebih lanjut, beliau mengaitkan nilai-nilai tawasuth (moderat), tawazun (seimbang), dan i’tidal (adil) sebagai fondasi etik organisasi. Nilai ini bukan hanya konsep teoretis, tetapi harus hidup dalam tata kelola, kepemimpinan, dan pengambilan keputusan di satuan pendidikan.

Menutup sesi, beliau mengajak peserta merefleksikan posisi dirinya sebagai kader organisasi. Internalisasi ideologi tidak berhenti pada pemahaman kognitif, tetapi harus terwujud dalam sikap, budaya kerja, dan komitmen kolektif menjaga arah organisasi.


Selanjutnya, pembahasan bergeser pada konteks yang lebih luas tentang posisi strategis Nahdlatul Ulama di tengah dinamika zaman. Materi disampaikan oleh Prof. Dr. H. Arif Rohman, M.Si., dengan tema “Dinamika dan Tantangan NU Masa Kini dan Mendatang”.

Beliau menjelaskan bahwa NU memiliki posisi sebagai jam’iyah diniyah ijtima’iyah, pejuang kemerdekaan, sekaligus pengawal NKRI dan kemajuan bangsa. Basis pesantren, ulama, serta tradisi Ahlussunnah wal Jamaah menjadi kekuatan utama yang mengakar di masyarakat.

Dalam konteks internal, NU menghadapi transformasi kader dan generasi. Munculnya generasi muda terdidik secara akademik modern membawa perubahan pola otoritas dari tradisional menuju rasional dan profesional. Hal ini menuntut penguatan manajemen organisasi dan profesionalisme tata kelola.

Sementara secara eksternal, NU dihadapkan pada globalisasi nilai, revolusi digital, dan kompetisi ideologi keagamaan. Disrupsi teknologi serta perubahan pola keberagamaan generasi muda menjadi tantangan yang harus dijawab secara bijak dan strategis.

Beliau juga menekankan pentingnya penguatan kaderisasi ideologis, ekonomi warga, serta transformasi institusi pendidikan dan pesantren. Penguasaan teknologi informasi menjadi kebutuhan, bukan pilihan, agar NU tetap relevan di era kecerdasan buatan dan perubahan global.

Mengakhiri pemaparannya, beliau mengajak kader LP Ma’arif NU menjadi mediator antara tradisi dan modernitas. Kader tidak hanya menjaga nilai, tetapi juga mengembangkan inovasi yang tetap berpijak pada prinsip Aswaja dan komitmen kebangsaan.

Sebagai penutup rangkaian hari kedua, peserta diberikan tugas analitis dan reflektif berbasis kasus nyata di satuan pendidikan masing-masing. Tugas ini dirancang untuk memastikan bahwa materi ideologi dan dinamika organisasi tidak berhenti pada tataran diskusi, tetapi benar-benar terimplementasi dalam tata kelola, layanan, dan kepemimpinan di lapangan.

Dengan terselenggaranya hari kedua TPT Level I ini, diharapkan lahir kader-kader LP Ma’arif NU DIY yang tidak hanya cakap secara teknis, tetapi juga matang secara ideologis, kokoh dalam komitmen organisasi, serta siap menjadi penggerak perubahan di satuan pendidikan masing-masing. Semangat kolektif, integritas, dan kesadaran sebagai talenta organisasi menjadi bekal penting untuk mengawal mutu pendidikan sekaligus menjaga kesinambungan visi besar LP Ma’arif NU PWNU DIY di masa kini dan mendatang.

You may also like

Leave a Comment

LP Ma’arif NU PWNU DIY adalah lembaga otonom Nahdlatul Ulama (NU) di Daerah Istimewa Yogyakarta yang berfokus pada pengelolaan pendidikan. Sebagai bagian integral dari NU, LP Ma’arif NU PWNU DIY memiliki misi untuk mengembangkan pendidikan berkualitas yang berlandaskan nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jama’ah.

LOCATION

Edtior's Picks

Latest Articles