Home Ma'NewsBerita Terkini META Yogyakarta Sukses Gelar English Learning Visit #9, Dorong Transformasi Pembelajaran Bahasa Inggris di Lingkungan LP Ma’arif NU PWNU DIY

META Yogyakarta Sukses Gelar English Learning Visit #9, Dorong Transformasi Pembelajaran Bahasa Inggris di Lingkungan LP Ma’arif NU PWNU DIY

by timpublikasilpmnudiy.AG.
0 comment

Ma’News – Yogyakarta – 03/02/2026 – META Yogyakarta (MGMP Bahasa Inggris LP Ma’arif NU DIY) sukses menyelenggarakan agenda “English Learning Visit #9″, sebuah rangkaian kunjungan edukatif yang menghadirkan Daniel Todd Sibley dan Alex Thorson dari Utah, Amerika Serikat, untuk berbagi inspirasi langsung di tengah-tengah pendidik dan siswa Ma’arif NU DIY.

Perjalanan inspiratif ini bermula dari sebuah komitmen untuk menghidupkan bahasa, bukan sekadar menghafalnya. Pada Senin, 26 Januari 2026, Daniel Todd Sibley mantan mahasiswanya, Alex Thorson, sampai di Yogyakarta menggunakan kereta api bandara (YIA) setelah sebelumnya mengalami keterlambatan penerbangan dari Singapura. Mereka tiba di JW Marriott Hotel Yogyakarta dan disambut langsung oleh tim inti META Yogyakarta yang dikoordinuasi oleh Novidha Sawitri, S.Pd., dan Siti Himatun Rofiah, S.S., menandakan kesiapan penuh untuk rangkaian agenda padat di hari-hari berikutnya.

Nantinya mereka akan mengunjungi sekolah-sekolah Ma’arif NU DIY, tepatnya di MA YAPPI Gubukrubuh dan SMK Ma’arif 1 Nanggulang. Sedangkan puncak acara, mereka akan mengadakan Seminar bersama 4 Native Speaker dari USA yang bertempat di Aveon Hotel, Sleman, Yogyakarta.

Membuka lembaran interaksi langsung dengan siswa, rombongan bertolak menuju Kabupaten Gunungkidul pada Selasa, 27 Januari 2026, untuk mengunjungi MA YAPPI Gubukrubuh. Dengan mengusung tema “Global Talk: Meet the Natives”, kehadiran mereka disambut antusias oleh Kepala Madrasah, Miftakhul Ichwan, S.Ag., beserta jajaran guru dan siswa.

Suasana formalitas seketika mencair di ruang kepala madrasah, berganti menjadi dialog hangat yang dibalut kearifan lokal melalui sajian kudapan tradisional di atas meja bermotif hijau, simbol penghormatan tuan rumah terhadap tamu.

banner

Di hadapan 60 siswa peserta Learning Visit, Mr. Sibley menekankan filosofi “Don’t just learn the language, live it,” mengajak siswa untuk tidak sekadar menghafal teori, tetapi berani “menghidupkan” bahasa tersebut melalui percakapan nyata.

Di balik interaksi formal, terdapat misi penguatan mental yang dibawa oleh kegiatan ini. Sesuai dengan tujuan utama “Global Talk“, kehadiran Mr. Sibley dan Mr. Thorson dirancang secara spesifik untuk meruntuhkan tembok ketidakpercayaan diri yang sering menghantui siswa saat berbahasa asing.

Melalui sesi tanya jawab yang cair dan penuh tawa, para siswa diajak merasakan langsung pengalaman pertukaran budaya, membuktikan bahwa bahasa Inggris adalah jembatan komunikasi yang menyenangkan dan interaktif, bukan sekadar mata pelajaran yang kaku dan teoretis di dalam buku teks.



Kegiatan berlanjut pada Rabu, 28 Januari 2026, tepatnya di wilayah Kulon Progo. Kali ini, SMK Ma’arif 1 Nanggulan menjadi tuan rumah bagi sesi pembelajaran lintas budaya tersebut.

Kehadiran Mr. Sibley dan Alex Thorson di tengah-tengah lingkungan SMK memberikan perspektif segar bahwa bahasa Inggris bukan sekadar mata pelajaran akademik, melainkan alat komunikasi praktis yang akan menjadi nilai tambah luar biasa ketika mereka terjun ke dunia kerja profesional nantinya.

Acara yang berlangsung sangat menyenangkan ini diikuti oleh 30 peserta didik terpilih dari kelas X dan XI SMK Ma’arif 1 Nanggulan. Para siswa tampak antusias mencoba berkomunikasi langsung tanpa rasa canggung, sesuai dengan visi “The world is waiting for your voice” . Hadir juga mendampingi rombongan, Joshua Subandriyo, A.Md, S.H, BBA, M.Pd, selaku Pembina MGMP META Yogyakarta serta jajaran Pengurus META Yogyakarta yang turut mengawal jalannya kegiatan.

Selama dua jam sesi interaktif di Nanggulan, suasana belajar berubah menjadi sangat dinamis saat para siswa diajak berdialog langsung mengenai tren global dan pengalaman hidup di Amerika Serikat.

Pihak sekolah juga turut menyambut kunjungan ini sebagai momentum emas untuk peningkatan kualitas akademik. Kepala Sekolah SMK Ma’arif 1 Nanggulan hadir memberikan dukungan penuh dan terlibat aktif dalam setiap sesi.


Jika kunjungan ke sekolah-sekolah di hari sebelumnya adalah ruang bagi siswa, maka Kamis, 29 Januari 2026, menjadi panggung utama bagi para guru untuk mempertajam “senjata” pedagogi mereka. Bertempat di Ruang Werkudara 1 & 2, Aveon Hotel Yogyakarta, META Yogyakarta menggelar puncak agenda English Learning Visit #9 melalui sebuah lokakarya eksklusif bertajuk “Beyond the Surface: Cultivating Deep Learning for Lasting English Proficiency“. Acara ini dirancang sebagai wadah transformasi dari pola pengajaran yang bersifat administratif menuju pembelajaran yang substantif dan mendalam.

Acara dibuka dengan sambutan dari Dr. Dott. Birul Walidaini, M.Mus., Pengurus LP Ma’arif NU PWNU DIY Divisi MGMP. Beliau selaku perwakilan dari lembaga atau yayasan memberikan apresiasi terhadap kegiatan ini. “Terima kasih yang mendalam atas segala kerja keras dan dedikasi luar biasa yang telah dicurahkan oleh segenap pengurus META Yogyakarta”, ujarnya. Beliau menyampaikan harapan besar agar META Yogyakarta tidak hanya berhenti pada pencapaian hari ini, namun mampu menjadi suluh yang menginspirasi MGMP-MGMP lainnya.

Beranjak ke sesi penguatan motivasi, Joshua Subandriyo, A.Md., S.H., BBA., M.Pd. selaku Pembina MGMP Bahasa Inggris, membawakan materi “Percikan Inspirasi” yang menekankan pentingnya konsistensi dalam dunia pendidikan. Ia mengingatkan para guru bahwa “keajaiban tidak lahir dari satu langkah besar, tetapi dari langkah-langkah kecil yang dilakukan terus-menerus.” Pesan tersebut disambut anggukan para peserta yang merasa tersentuh dengan pendekatan reflektif tersebut.

Memperdalam pesan motivasi tersebut, Joshua Subandriyo kembali menekankan bahwa guru adalah arsitek masa depan yang bekerja dalam proses panjang dan sering kali sunyi. Ia mengajak peserta untuk tidak cepat lelah dalam berinovasi di kelas, karena menurutnya konsistensi adalah jembatan yang mengubah hal “biasa” menjadi “luar biasa”. Ia juga mengingatkan bahwa dampak pendidikan sering kali baru terlihat bertahun-tahun kemudian, sehingga kesabaran dan keteguhan hati menjadi modal utama seorang pendidik.

Memasuki materi inti, Daniel Todd Sibley membangun suasana yang hangat dan interaktif. Ia mengajak para guru untuk menciptakan kelas yang menyenangkan agar siswa merasa nyaman belajar. Dalam pemaparannya, ia menekankan pentingnya pemahaman mendalam atau deep learning. Menurutnya, “belajar bukan sekadar di permukaan, tetapi menyelami makna agar ilmu bertahan lama.” Ia juga mengajak guru menghargai keberagaman budaya sebagai kekuatan dalam pembelajaran bahasa.

enajamkan materi pedagogisnya, Daniel Todd Sibley menekankRan bahwa guru perlu membantu siswa merasa dihargai atas setiap usaha yang mereka lakukan. Ia menyampaikan gagasan bahwa seorang guru sebaiknya membuat murid merasa sebagai “juara” atas proses belajarnya, bukan hanya menilai hasil akhir. Ia juga menunjukkan bahwa suasana kelas yang ramah, penuh gerak, dan dialog terbuka mampu membuat pembelajaran bahasa menjadi pengalaman hidup, bukan sekadar pelajaran sekolah.

Menguatkan perspektif modern, Alex Thorson melanjutkan sesi dengan tema pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dalam pendidikan. Ia menjelaskan bahwa teknologi bukan ancaman bagi guru. “AI adalah sayap inovasi yang membantu guru terbang lebih tinggi,” ujarnya, seraya menekankan bahwa sentuhan hati seorang pendidik tetap menjadi inti proses belajar. Demonstrasi penggunaan AI dalam perencanaan pembelajaran membuat peserta semakin terbuka terhadap inovasi digital.

Memperluas wawasan teknologi tersebut, Alex Thorson menambahkan bahwa AI dapat membantu guru menyiapkan materi yang lebih personal dan kreatif sesuai kebutuhan siswa. Namun ia menegaskan, kecerdasan buatan hanya alat, sedangkan empati, nilai, dan inspirasi tetap datang dari manusia. Ia mendorong guru untuk berani bereksperimen dengan teknologi, tetapi tetap menjaga keseimbangan antara kecanggihan digital dan sentuhan kemanusiaan di dalam kelas.


Menjelang akhir kegiatan, suasana berubah haru ketika Daniel Todd Sibley harus berpamitan lebih awal karena agenda penerbangan. Perpisahan tersebut diiringi doa dan ucapan terima kasih dari para peserta. Sesi kemudian dilanjutkan dengan dialog inspiratif bersama Mell Jeffery dan Julie Jeffery yang berbagi pandangan tentang pendidikan lintas budaya dan pentingnya dukungan keluarga dalam perjalanan pengabdian seorang pendidik.

Menguatkan sesi dialog tersebut, Mell Jeffery menyampaikan pandangan bahwa pendidikan bukan hanya transfer ilmu, tetapi proses membentuk karakter melalui keteladanan. Ia mendorong guru untuk terus konsisten melahirkan hal-hal besar dari langkah kecil di ruang kelas. Sementara itu, Julie Jeffery menambahkan bahwa dukungan, empati, dan kasih sayang adalah kekuatan tersembunyi yang membuat perjalanan pendidikan tetap bermakna. Dialog keduanya menghadirkan perspektif humanis yang melengkapi materi akademik sepanjang workshop.

Sebagai penutup penuh makna, para guru meninggalkan ruangan dengan semangat baru. Workshop ini tidak hanya menghadirkan ilmu, tetapi juga memperkuat jejaring global dan kesadaran bahwa pendidikan adalah jembatan budaya. Para peserta berharap kolaborasi seperti ini terus berlanjut, menjadi jalan bagi guru Indonesia untuk semakin percaya diri, adaptif terhadap teknologi, dan mampu menyiapkan generasi yang berdaya saing dunia tanpa kehilangan nilai kemanusiaan.

You may also like

Leave a Comment

LP Ma’arif NU PWNU DIY adalah lembaga otonom Nahdlatul Ulama (NU) di Daerah Istimewa Yogyakarta yang berfokus pada pengelolaan pendidikan. Sebagai bagian integral dari NU, LP Ma’arif NU PWNU DIY memiliki misi untuk mengembangkan pendidikan berkualitas yang berlandaskan nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jama’ah.

LOCATION

Edtior's Picks

Latest Articles